Di dunia ini tak ada manusia yang tak punya masalah, baik masalah besar dan serius ataupun masalah kecil dan sepele. Dan setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi dan menerima setiap masalah.

Kadang masalah besar buat kita tapi kecil bagi orang lain. Dan kita tidak bisa dan tidak boleh menghakimi atau memandang kecil masalah orang lain. Masalah yang timbul kadang bisa membuat seseorang menjadi depresi.

Berkaitan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang jatuh pada tanggal 7 April  2017, Kementerian Kesehatan mengundang blogger dan media untuk menyebarkan apa itu depresi. Hal ini sesuai dengan tema yang diangkat oleh WHO, yaitu “Depresion : “Let’s Talk”. Acara tersebut diisi dengan pemaparan materi dari Ka Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat serta beberapa nara sumber lainya. Dan beruntunglah saya karena bisa datang ke acara tersebut dan mendapat pengetahuan lebih jauh tentang depresi.

Lalu apa itu Depresi?

Depresi adalah sebuah keadaan atau penyakit dengan gejala rasa sedih yang berkepanjangan, serta hilangnya minat melakukan kegiatan yang biasanya disukai. Keadaan ini diikuti dengan ketidakmampuan menjalankan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari setidaknya selama dua minggu.

Selain itu mereka yang mengalami depresi biasanya jadi kurang aktif karena energinya menurun, berubahnya nafsu makan, gangguan tidur, bisa lebih banyak atau kurang. Cemas, hilang konsentrasi, labil hingga tidak bisa membuat keputusan, merasa tidak berharga dan bersalah, putus asa bahkan bila sudah akut biasanya diikuti dengan pikiran jelek seperti ingin melukai diri sendiri hingga bunuh diri.

Setiap orang bisa berpotensi mengalami depresi, baik tua maupun muda dan setiap periode usia memiliki jenis depresi yang berbeda. Depersi pada anak-anak biasa terjadi karena beratnya tuntutan dari sekolah maupun orang tua. Dan depresi ini kadang tidak disadari oleh orangtua maupun guru, semua cenderung menilai anak yang mengalami depresi adalah aneh. Maka tak heran bila banyak kasus anak bunuh diri saat ini, karena banyak orangtua dan guru yang asik sendiri dengan dunianya tanpa mau peduli dengan keadaan anak yang butuh curahan kasih sayang dan perhatian.

Selain remaja dan anak-anak, orang lanjut usia pun bisa terkena depresi dan sering kali depresi pada orang lanjut usia ini tidak tertangani dengan baik dan benar. Depresi pada usia lanjut sering kali dihubungkan dengan kondisi fisik seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, atau rasa sakit yang kronis akibat kehilangan pasangan, kurangnya kemampuan untuk mandiri dan yang paling menyakitkan adalah rasa terbuang dan tidak dibutuhkan lagi oleh anak-anaknya. Manula yang mengalami depresi memiliki resiko tinggi untuk bunuh diri.

Perempuan lebih rentan untuk menjadi depresi. Dan depresi pasca melahirkan merupakan hal yang umum dan wajar terjadi. 1 dari 6 perempuan yang baru melahirkan mengalami depresi. Gejala depresi pasca melahirkan diawali dengan perasaan terbebani, menangis tanpa alasan yang jelas, kurangnya rasa dekat dengan bayi, serta adanya keraguan bisa merawat diri dan buah hati. 

Depresi pasca melahirkan bisa berlangsung beberapa bulan bahkan menahun, hal ini bisa mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi bila tidak segera ditangani. Depresi pasca melahirkan dikenal dengan istilah baby blue. Dan banyak keluarga atau suami dari ibu yang depresi pasca melahirkan tidak mengerti dengan keadaan tersebut, terkadang mereka malah mencemooh hingga makin menambahkan beban si penderita depresi.

Depresi bukanlah suatu kelemahan watak atau mental. Depresi bisa disembuhkan dengan terapi dalam bentuk konsultasi ataupun dengan obat anti depresan. Dukungan dari orang terdekat baik keluarga maupun teman bisa membantu penyembuhan depresi. Stress dan tekanan bisa memperparah depresi.

Depresi; Yuk Curhat, bicarakan dan berbagi masalahmu dengan orang terdekat dan bisa dipercaya

Beberapa tips untuk menghindari depresi:

  • Bicaralah  dengan orang yang dapat dipercaya. 
  • Bila masih merasa mengalami depresi, carilah bantuan profesional.  Bisa dimulai dengan menemui tenaga kesehatan atau dokter.
  • Tetaplah menjaga hubungan baik dengan keluarga, teman dan orang sekitar.
  • Biasakan untuk makan dan tidur secara teratur.
  • Olahraga ringan dan teratur sangat membantu mencegah depresi.
  • Hindari dan batasi mengkonsumsi alkohol atau narkoba, karena hanya akan memperparah depresi.
  • Tetaplah melakukan hal-hal disukai meskipun sedang kehilangan selera untuk melakukannya.
  • Dekatkan diri pada Tuhan dengan cara menambah waktu untuk beribadah.
  • Berpikir positif dan perbanyak kegiatan.

Tinggal dan hidup dengan orang depresi bisa sangat menyulitkan, kita bisa membantu mereka untuk pulih dengan menjadi orang yang bisa dipercaya dan bisa diajak curhat. Doronglah mereka untuk mendapatkan bantuan profesional dan ajak mereka untuk melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat. Pahami mereka tapi jangan lupa untuk tetap menjaga diri sendiri agar tidak ikutan depresi.

Terkadang masalah datang untuk mendewasakan kita dan hanya dengan berbagi dan saling mengerti semua masalah akan terasa ringan.

Iklan

4 respons untuk ‘Tangani Depresi Sejak Dini Dengan Berbagi 

  1. Itulah ya mba knp banyak kasus bunuh diri. Untuk orang yang gampang mengungkapkan perasaan mungkin curhat bukan hal yg sulit. Beda halnya dgn orang yang intovert. Sulit bagi mereka untuk membagi perasaannya. Mungkin itu kenapa banyak yang depresi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s